Sajak : Bunga Sirih Untuk Guru
Sajak ini mengisahkan kecekalan dan kesabaran guru dalam melaksanakan tanggungjawab sebagai seorang pendidik. Guru juga digambar dalam sajak ini sebagai seorang pemimpin insan yang bakal menjadi pemimpin negara suatu hari nanti.
Tuesday, 20 March 2012
Bunga Sirih untuk Guru
Guru adalah Ibu pengasuh budiman
guru adalah ratu lebah
lalu memujuk membelai kelopak
cinta kasih sayang
lilinnya berbunga sinar cahaya
madunya berbunga penawar jiwa.
guru adalah ratu lebah
lalu memujuk membelai kelopak
cinta kasih sayang
lilinnya berbunga sinar cahaya
madunya berbunga penawar jiwa.
Guru adalah penyu pengasih
lalu menabur bunga telur
baktinya segar mewangi
sepanjang pantal zaman.
lalu menabur bunga telur
baktinya segar mewangi
sepanjang pantal zaman.
Guru adalah lampu penyuluh
pedoman kehidupan
guru adalah pendakwah
lalu mengikut jejak Nabi Muhammad
memimpin insan
ke jalan lurus ke padang luas.
pedoman kehidupan
guru adalah pendakwah
lalu mengikut jejak Nabi Muhammad
memimpin insan
ke jalan lurus ke padang luas.
Bunga sirih bunga pirtang
terima kasih terima savang
budi bicara guru berjasa
kami sanjung tinggi.
terima kasih terima savang
budi bicara guru berjasa
kami sanjung tinggi.
Jasamu Dikenang
Segala bakti yang engkau curahkan
mengajar mendidik anak bangsa
segala jasa yang engkau taburkan
menjadi kenangan tak akan kami lupakan.
mengajar mendidik anak bangsa
segala jasa yang engkau taburkan
menjadi kenangan tak akan kami lupakan.
Engkau laksana pelita di malam gelita
memancarkan sinar sepenuh rela
jiwamu tabah hatimu cekal
kasihmu sud semangatmu berkobar
yang tak pernah mengenal erti putus asa
yang tak pernah meminta puji dan puja.
memancarkan sinar sepenuh rela
jiwamu tabah hatimu cekal
kasihmu sud semangatmu berkobar
yang tak pernah mengenal erti putus asa
yang tak pernah meminta puji dan puja.
Jasamu tak akan luput dalam ingatan kami
sepanjang hayat mekar di sudut had
tiap sepatah katamu mengisi erti
tiap madahmu mengandungi hikmat
pembentuk peribadi penegak kebenaran
pengatur hidup petunjuk kebahagiaan.
sepanjang hayat mekar di sudut had
tiap sepatah katamu mengisi erti
tiap madahmu mengandungi hikmat
pembentuk peribadi penegak kebenaran
pengatur hidup petunjuk kebahagiaan.
Hanya kata-kata ini yang dapat kami lafazkan
terkumpul dari seribu hati menjadi satu
menadah tangan dengan doa restu
kepada Tuhan yang menjanjikan pembalasan
kepadamu guru-guru yang berjiwa mulia
pembimbing petunjuk ke arah maju jaya.
terkumpul dari seribu hati menjadi satu
menadah tangan dengan doa restu
kepada Tuhan yang menjanjikan pembalasan
kepadamu guru-guru yang berjiwa mulia
pembimbing petunjuk ke arah maju jaya.
Jujur dan ikhlas engkau berbakti
di kota dan desa atau di huj'ung negeri
cekal dan tabah menempuh dugaan
hidupmu bagalkan pelita di tengah malam
membakar diri menerangi yang kelam
jasamu akan karra kenang sepanjang zaman.
di kota dan desa atau di huj'ung negeri
cekal dan tabah menempuh dugaan
hidupmu bagalkan pelita di tengah malam
membakar diri menerangi yang kelam
jasamu akan karra kenang sepanjang zaman.
Thursday, 15 March 2012
Pantun Untuk Guru
Tujuh belas tahun rindu tersemat,
Tanjung Aru tempat berjumpa;
Enam belas Mei tarikh keramat,
Jasa guru janganlah dilupa.
Anak kancil pergi berguru
Tidak terbiasa kerja yang sia;
Dari kecil diasuh guru,
Agar dewasa menjadi manusia.
Hendak berburu ke luar kota,
Seluas alam bumi terentang;
Tanpa guru siapalah kita.
Ibarat malam tanpa bintang.
Jalan ke barat berpilin-pilin,
Cuaca redup menawar duka;
Guru ibarat cahaya lilin,
Menyuluh hidup tiap ketika.
Kembang kudup kumbang terpikat;
Hargai guru sepanjang zaman,
Agar hidup beroleh berkat.
Istana kota sebelas langkat,
Tempat baharu Nakhoda Pekan;
Sama kata sama sepakat,
Hari guru marilah raikan.
Tanjung Aru tempat berjumpa;
Enam belas Mei tarikh keramat,
Jasa guru janganlah dilupa.
Anak kancil pergi berguru
Tidak terbiasa kerja yang sia;
Dari kecil diasuh guru,
Agar dewasa menjadi manusia.
Hendak berburu ke luar kota,
Seluas alam bumi terentang;
Tanpa guru siapalah kita.
Ibarat malam tanpa bintang.
Jalan ke barat berpilin-pilin,
Cuaca redup menawar duka;
Guru ibarat cahaya lilin,
Menyuluh hidup tiap ketika.
Angin menderu dengan sepoinya,
Di anak tangga duduk berperikan;
Kasih guru akan muridnya,
Masa dan tenaga rela korbankan.
Meski Utarid kabur pandangnya,
Hanya percaya kuasa Tuhan;
Kasih murid akan gurunya,
Gapai jaya di hari depan.
Putik baru mekar di laman,Di anak tangga duduk berperikan;
Kasih guru akan muridnya,
Masa dan tenaga rela korbankan.
Meski Utarid kabur pandangnya,
Hanya percaya kuasa Tuhan;
Kasih murid akan gurunya,
Gapai jaya di hari depan.
Kembang kudup kumbang terpikat;
Hargai guru sepanjang zaman,
Agar hidup beroleh berkat.
Istana kota sebelas langkat,
Tempat baharu Nakhoda Pekan;
Sama kata sama sepakat,
Hari guru marilah raikan.
Subscribe to:
Posts (Atom)